Sunday, September 25, 2011

Waspadailah Peradangan Usus Buntu

 


Usus buntu (sekum) adalah satu kantong yang terhubung pada usuus penyerapan serta bagian kolon yang menanjak dari usus besar. Usus buntu ditemukan pada semua jenis mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Sebagaian besar makhluk herbivora memiliki usus buntu yang besar, sedangkan karnivora eksklusif memiliki usus buntu yang relatif lebih kecil yang sebagian atau seluruhnya fungsinya digantikan dengan umbai cacing.

Pada awalnya, usus buntu hanya dianggap sebagai organ tambahan yang tidak memiliki fungsi apapun dan lebih diidentifikasi sebagai organ tambahan. Akan tetapi dengan adanya perkembangan medis dewasa ini, diketahui bahwa usus buntu merupakan organ yang memiliki fungsi apendiks yaitu sebagai organ imunologik dan aktif berperan dalam sistem kekebalan tubuh dimana usus buntu sebagian besar berisi kelenjar limfoid.


Usus buntu, sesuai dengan namanya benar-benar merupakan saluran usus yang ujungnya buntu. Usus buntu ini besarnya hanya sebesar jari kelingking terletak di perut bagian kanan bawah. Dinding bagian dalam, banyak menghasilkan lendir yang mengalir keluar masuk dari usus buntu ke bagian usus besar. Dengan kondisi yang demikian, usus buntu sangat mungkin mengalami penyumbatan karana hanya memiliki satu ujung terbuka. Jika usus buntu ini terseumbat maka bakteri yang ada di dalam usus buntu akan menyerang didnding usus buntu, akibanya terjadi pradangan yang ditandai dengan demam dan rasa sakit di bagian kanan bawah.

Radang usus buntu diawali dengan tersumbatnya saluran usus buntu oleh berbagai sebab. Salah satunya adalah penumpukan lendir kental yang dihasilkan dinding usus buntu bagian dalam. Saluran usus buntu mungkin pula terblokir oleh sisa kotoran yang mengeras atau fecalith. Pembengkakan jaringan limpa di dalam usus buntu merupakan penyebab lainnya. Jaringan limpa biasanya membengkak karena menangkap kuman-kuman berbahaya seperti kuman TBC.

Cacing jenis Ascaris Lumbricus atau Cacing Tambang bisa pula menyumbat usus buntu. Masih ada sejumlah penyebab penyumbatan lain seperti biji-bijian yang tidak dapat dicerna, misalnya biji cabe, biji jambu biji dan jagung. Penyumbatan saluran secara otomatis mengakibatkan penumpukan lendir di dalam usus buntu. Bakteri yang ada di dalamnya mulai menyerang sehingga terjadi infeksi. Usus buntu yang terblokir akan semakin menggelembung. dindingnya menipis dan rapuh sehingga setiap saat bisa pecah.

Usus buntu bisa menyerang siapa saja tanpa bisa dicegah. Gejala awal yang dirasakan adalah rasa sakit perut di sekitar pusar. Rasa nyeri hebat di perut kanan bawah baru dirasakan penderita setelah peradangannya semakin bertambah serius. Titik pusat rasa sakit yang letaknya di jarak 1/3 bagian dari tulang panggul ke arah pusar ini disebut dengan Titik McBurney.

Pasien yang mengidap radang usus buntu akut akan mengalami rasa sakit di perut kanan bawah secara tiba-tiba. Hal serupa ini tidak terjadi pada penderita radang usus buntu kronis atau menahun. Sakit yang dirasakan relatif tidak terlalu hebat, tetapi muncul gejala lain seperti mual, muntah-muntah dan tidak bernafsu makan.

Gejala lain yang sering dijumpai pada peradangan usus buntu adalah:
  • Sakit perut, terutama dimulai di sekitar pusar dan bergerak kesamping kanan bawah.
  • Nafsu makan menurun.
  • Mual dan muntah.
  • Diare, konstipasi (sembelit), atau sering buang angin.
  • Demam rendah setelah gejala lain muncul.
  • Perut bengkak.
Rasa sakit di perut kanan bawah secara terus menerus selama 6 jam merupakan gejala radang usus buntu yang paling sering muncul. Pada tahap pemeriksaan awal, dokter akan melakukan palpasi yakni perabaan di perut kanan bawah.

Bagian ini terasa sakit saat ditekan. Serangkaian pemeriksaan lain perlu dilakukan untuk memastikan diagnosa misalnya pemeriksaan jumlah leukosit (sel darah putih). Jumlah leukosit dalam darah meningkat tajam jika terjadi infeksi. Pemeriksaan dengan alat USG, kini juga banyak dilakukan untuk mempermudah dokter dalam mendiagnosa.

Untuk mengatasi peradangan usus buntu, “Tidak ada jalan lain kecuali operasi!”. Jika didiamkan usus buntu yang mengalami peradangan akan mengalami perforasi atau pecah. Pecahnya usus buntu bisa mengarah ke kondisi yang lebih serius seperti periappendiceal abscess. Usus buntu yang mengalami peradangan sudah hancur dan berubah menjadi bisul atau abses. Komplikasi lainnya adalah infeksi dinding bagian dalam perut dan panggul yang dikenal dengan istilah peritonitis. Komplikasiyang paling ditakuti dari pecahnya usus buntu adalah kondisi sepsis. Dalam kondisi ini bakteri penginfeksi masuk ke dalam darah dan beredar ke bagian-bagian tubuh lainnya. Penanganan yang kurang cepat dan tepat akan mengakibatkan resiko infeksi lebih parah dan dapat berujung pada kematian.

Tidak selamanya usus buntu yang terinfeksi akan pecah jika tak segera dioperasi. Ada beberapa kasus dimana pasien mengalami kebocoran kecil pada usus buntunya. Sesuai dengan mekanisme pertahanan tubuh, usus buntu yang bocor mencari cara untuk menambal kebocoran. Biasanya usus buntu akan menempelkan diri ke bagian usus lain. Jika masih terjadi kebocoran, lemak perut, ataupun usus besar akan ikut menambal usus buntu yang bocor.

Pasien yang usus buntunya tidak pecah biasanya hanya perlu dirawat selama dua sampai tiga hari di rumah sakit. Pasien dengan kasus pecah usus buntu harus tinggal lebih lama, kurang lebih satu minggu.

Segeralah konsultasikan dengan dokter, apabila di temui gejala-gejala yang menagrah pada peradangan usus buntu. Penanganan dini murpakan tindakan tepat untuk mengatasi komplikasi yang lebih parah lagi.

No comments:

Post a Comment