Thursday, September 22, 2011

Diabetes Melitus

Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit tertua pada manusia. Berasal dari istilah kata Yunani, Diabetes yang berarti pancuran dan Melitus yang berarti madu atau gula.
Kurang lebih istilah Diabetes Melitus menggambarkan gejala diabetes yang tidak terkontrol, yakni banyak keluar air seni yang manis karena mengandung gula. Oleh karena demikian, dalam istilah lain penyakit ini disebut juga “Kencing Manis”.
Secara definisi medis, definisi diabetes meluas kepada suatu kumpulan aspek gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik yang sifatnya absolut maupun relatif.
Diabetes melitus sangat erat kaitannya dengan mekanisme pengaturan gula normal. Pada kondisi normal, kadar gula tubuh akan selalu terkendali, berkisar 70-110 mg/dL, oleh pengaruh kerja hormon insulin yang diproduksi oleh kelenjar pankreas.
Setiap sehabis makan, terjadi penyerapan makanan seperti tepung-tepungan (karbohidrat) di usus dan akan kadar gula darah meningkat. Peningkatan kadar gula darah ini akan memicu produksi hormon insulin oleh kelenjar pankreas.
Hormon insulin diproduksi oleh kalenjar pankreas. Dalam kelenjar pankreas mengandung kurang lebih 100.000 pulau Langerhans dan setiap pulau mengandung 100 sel beta. Oleh sel beta-lah hormon insulin diproduksi, dimana sel beta dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel. Untuk kemudian di dalam sel, glukosa tersebut dimetabolisasikan menjadi tenaga energi.


Jika hormon insulin tidak ada, maka glukosa tak dapat masuk ke sel dengan akibat glukosa akan tetap berada di dalam pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat.
Sebaliknya, disamping sel beta, terdapat juga sel alfa yang memiliki fungsi memproduksi glukagon yang bekerja sebaliknya dari hormon insulin, yakni meningkatkan kadar glukosa darah.
Dalam keadaan seperti ini badan acapkali menjadi lemah karena tidak adanya sumber energi didalam sel. Hal inilah yang paling rentan terjadi pada diabetes melitus tipe 1.
Berkat pengaruh hormon insulin ini, gula dalam darah sebagian besar akan masuk ke dalam berbagai macam sel tubuh (terbanyak sel otot) dan akan digunakan sebagai bahan energi dalam sel tersebut. Sel otot kemudian menggunakan gula untuk beberapa keperluan yakni sebagai energi, sebagian disimpan sebagai glikogen dan jika masih ada sisa, sisa sebagian tersebut diubah menjadi lemak dan protein.

* Tipe Diabetes Mellitus *
~ Diabetes Melitus Tipe 1
Pada Diabetes Melitus Tipe 1 penyebab utamanya ialah terjadinya kekurangan hormon insulin pada proses penyerapan makanan.
Fungsi utama hormon insulin dalam menurunkan kadar gula darah secara alami dengan cara :
  • Meningkatkan jumlah gula yang disimpan di dalam hati.
  • Merangsang sel-sel tubuh agar menyerap gula.
  • Mencegah hati mengeluarkan terlalu banyak gula.
Jika insulin berkurang, kadar gula di dalam darah akan meningkat. Gula dalam darah berasal dari makanan kita yang diolah secara kimiawi oleh hati. Sebagian gula disimpan dan sebagian lagi digunakan untuk tenaga.
Disinilah fungsi hormon insulin sebagai “stabilizer” alami terhadap kadar glukosa dalam darah. Jika terjadi gangguan sekresi (produksi) hormon insulin ataupun terjadi gangguan pada proses penyerapan hormon insulin pada sel-sel darah, maka potensi terjadinya diabetes melitus sangat besar sekali.
~ Diabetes Melitus Tipe 2
Jika pada Diabetes Melitus 1 penyebab utamanya adalah dari malfungsi kelenjar pankreas, pada Diabetes Melitus Tipe 2, gangguan utama justru terjadi pada volume reseptor (penerima) hormon insulin, yakni sel-sel darah.
Dalam kondisi ini produktifitas hormon insulin bekerja dengan baik, namun tidak terdukung oleh kuantitas volume reseptor yang cukup pada sel darah, keadaan ini dikenal dengan resistensi insulin.
Walau belum dapat dipastikan penyebab utama resistensi insulin, dibawah ini terdapat beberapa faktor-faktor yang memiliki berperan penting terjadinya hal tersebut:
  • Obesitas, terutama yang besifat sentral (bentuk tubuh apel)
  • Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat
  • Kurang gerak badan (olahraga)
  • Faktor keturunan (herediter)
Diabetes Melitus tidak menakutkan bila diketahui lebih awal. Gejala-gejal yang timbul sangat tidak bijaksana untuk dibiarkan, karena justru akan menjerumuskan ke dalam komplikasi yang lebih fatal.
Jika berlangsung menahun, kondisi penderita Diabetes Melitus berpeluang besar menjadi ketoasidosis ataupun hipoglikemia.
Lakukan pemeriksaan dini pada tubuh, tidak perlu menunggu hingga timbul gejala. Karena dengan dilakukan diagnosis dini, dokter dan pasien dapat menanggulangi diabetes melitus dengan baik agar kita mampu mencegah tersebut sebaik-baiknya.

* Pankreas *
Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki fungsi utama yakni untuk menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti insulin.
Kalenjar pankreas terletak pada bagian belakang lambung dan berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari). Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau pada peta, karena itu acapkali disebut pulau-pulau Langerhans.Dinamakan Langerhans atas penemunya, Paul Langerhans pada tahun 1869. Setiap pulau berisikan sel beta yang berfungsi mengeluarkan hormon insulin. Dimana hormon insulin memegang peran penting dalam mengatur kadar glukosa darah.
Tiap pankreas mengandung lebih kurang 100.000 pulau Langerhans dan tiap pulau berisi 100 sel beta. Disamping sel beta ada juga sel alfa yang memproduksi glukagon yang bekerja sebaliknya dari insulin yaitu mengingkatkan kadar glukosa darah. Juga ada sel delta yang mengeluarkan somatostatin.
Gejala Diabetes Melitus ~ Gejala Awal Diabetes Melitus :
Gejala awal Diabetes Melitus biasa disebut dengan 3 P, yakni :
1. Poliuria (banyak kencing)
Hal ini terjadi ketika kadar gula melebihi ambang ginjal yang mengakibatkan glukosa dalam urin menarik air sehingga urin menjadi banyak. Maka acapkali para penderita diabetes mengalami buang air kecil dengan intensitas durasi melebihi volume normal (poliuria).
2. Polidipsi (banyak minum)
Karena sering buang air kecil, acapkali para pasien diabetes (diabetesein) akan banyak minum, (polidipsi). Karena demikianlah kita sering mendapati para diabetesein mengalami keluhan lemas, banyak makan (polifagi).
3. Polifagi (banyak makan)
Seorang diabetesein yang baru makan akan mengalami ketidakcukupan hormon insulin untuk memasukkan glukosa ke dalam sel, hal ini akan menyebabkan tubuh akan selalu ‘merasa’ kelaparan, sehingga tubuh sering terasa lemah. Kompensasinya seseorang diabetesein akan makan lebih banyak lagi.
~ Gejala Lanjutan Diabetes Melitus :
1. Berat badan berkurang.
Ketika proses sekresi pankreas kurang mencukupi jumlah hormon insulin untuk mengubah gula menjadi tenaga, tubuh akan menggunakan simpanan lemak dan protein yang ada. ‘Pengurasan’ simpanan lemak dan protein di tubuh ini menyebabkan berkurangnya berat badan.
2. Penglihatan Menjadi Kabur.
Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan perubahan pada lensa mata sehinggga penglihatan kabur walaupun baru saja mengganti kaca mata.
3. Cepat Lelah.
Karena gula di dalam darah tidak dapat diubah menjadi tenaga sel-sel tubuh, maka badan ceoat merasa lelah, kurang bertenaga dan bahakan acapkali mengantuk.
4. Gatal Di Daerah Kemaluan.
Infeksi jamur disekitar kemaluan menyebabkan rasa gatal terutama pada wanita.
5. Luka Sulit Sembuh
Pada diabetesein, terjadi penurunan daya tubuh terhadap infeksi sehingga bila sulit timbul luka akan sulit sembuh. Tidak menutup kemungkinan, jika terjadi infeksi berat di daerah kaki, akan berpotensi untuk diamputasi hingga kecacatan permanen.
~ Gejala Kronis Diabetes Melitus :
1. Impoten / Disfungsi Ereksi & Kesemutan di Kaki
Diabetes mampu merusak jaringan saraf dan pembuluh darah baik pada kemaluan maupun kaki, sehingga dapat menyebabkan impoten dan kesemutan di kaki.
2. Kerusakan ginjal
3. Gangren (infeksi berat pada kaki hingga membusuk)
4. Kebutaan
5. Serangan Stroke
6. Serangan Jantung Koroner
7. Kematian Mendadak
Diabetes Melitus tidak menakutkan bila diketahui lebih awal. Gejala-gejal yang timbul sangat tidak bijaksana untuk dibiarkan, karena justru akan menjerumuskan ke dalam komplikasi yang lebih fatal.
Lakukan pemeriksaan dini pada tubuh, tidak perlu menunggu hingga timbul gejala. Karena dengan dilakukan diagnosis dini, dokter dan pasien dapat menanggulangi diabetes melitus dengan baik agar kita mampu mencegah tersebut sebaik-baiknya.

* Perawatan kaki bagi penderita Diabetes *
Diabetisi (sebutan bagi penyandang diabetes mellitus atau kencing manis) memiliki risiko tinggi mengalami gangguan pada kaki yang dikenal dengan istilah gangren kaki, dan dapat berakhir dengan amputasi. Meski demikian, diabetisi tak perlu khawatir karena risiko gangren kaki dapat diminimalkan dengan perawatan kaki yang baik.
Gangren kaki terjadi karena kadar gula darah yang tinggi dapat menurunkan kekebalan tubuh sehingga bila terjadi luka di kaki sulit disembuhkan bahkan dapat meluas dan membusuk. Selain itu terjadinya penyumbatan pembuluh darah menyebabkan aliran darah ke kaki atau tungkai terganggu, padahal komponen sistem kekebalan tubuh (yaitu lekosit atau sel darah putih) terdapat dalam darah. Akibatnya sedikit luka di kaki dapat menjadi infeksi yang berkepanjangan, diikuti dengan munculnya borok yang membusuk dan dapat meluas. Risiko terjadinya gangren kaki dapat dikurangi apabila diabetisi merawat kakinya dengan baik.
Periksalah kaki Anda setiap hari secara rutin.
Perhatikan sela-sela jari kaki dan telapak kaki Anda. Mintalah pertolongan orang lain jika mengalami kesulitan dalam memeriksa kaki Anda atau Anda dapat menggunakan cermin sebagai alat bantu. Diabetisi harus memperhatikan benar apabila ada gejala kulit yang pecah, terpotong, tergores, melepuh, ada luka/borok dan terjadi perubahan warna pada luka.
Rasakanlah setiap perubahan temperatur dengan teliti.
Kondisi kaki harus tetap terasa hangat dan tidak boleh bengkak, lunak atau muncul bintik-bintik halus pada kaki. Penyembuhan luka pada kaki diabetisi walaupun luka kecil, sering memakan waktu yang lama. Jika telah terjadi kerusakan saraf, mungkin Anda tidak dapat merasakan adanya luka atau kulit yang pecah. Luka kecil apapun dapat menyebabkan infeksi sehingga harus diobati segera.
Perhatikan dan rawatlah luka dengan benar.
Apabila ada luka kecil karena terpotong, Anda harus membersihkan daerah luka dengan antiseptik, kemudian tutup luka dengan kain bersih dan kering. Penggunaan obat merah (iodium) harus dihindari karena warna obat dapat menyembunyikan tAnda-tAnda peradangan dan infeksi. Jangan menggunakan alat penghilang rasa, obat kutil maupun minyak. Segeralah ke dokter bila luka tidak sembuh dalam 2-3 hari.
Jangan berjalan tanpa alas kaki baik di dalam ataupun di luar rumah.
Gunakan kaos kaki dari bahan wol atau katun sehingga dapat menyerap keringat dan menjaga kaki tetap kering. Gantilah kaos kaki Anda setiap hari. Sepatu yang digunakan hendaknya sesuai ukuran sehingga akan memberikan kenyamanan pada saat memakainya. Potonglah kuku Anda secara tepat dan hati-hati. Memotong kuku kaki harus lurus, tidak memotong sudut kaki, dan kuku jangan terlalu pendek.
Apabila Anda perokok, hentikanlah, karena merokok dapat menurunkan aliran darah ke kaki.
Cara perawatan kaki sehari-hari :
1. Cucilah kaki dengan baik, menggunakan air hangat.
2. Gunakan sabun cair.
3. Jangan menggosok lebih dari 5 menit.
4. Berikan perhatian khusus pada sela jari kaki.
5. Keringkan kaki dan jari kaki secara cermat dengan menggunakan handuk yang lembut.
6. Gunakan lotion pelembab atau krim untuk menjaga kulit Anda agar tetap sehat dan segar karena komplikasi jangka panjang yang terjadi pada pembuluh darah dapat menyebabkan kulit Anda menjadi terlalu kering dan mudah pecah.
7. Jangan menggunakan bedak talk untuk menjaga kaki Anda tetap kering.


Waspadai Kesemutan Pada Kaki !!
Kesemutan yang sering dialami diabetisi harus diwaspadai karena merupakan pertAnda bahwa telah terjadi kerusakan pembuluh darah pada saraf di sekitar kaki. Upayakan kadar gula darah Anda selalu mendekati nilai normal dan pertahankan agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut.

No comments:

Post a Comment