Tuesday, December 18, 2012

Mengenal Lebih Jauh Skoliosis



SKOLIOSIS merupakan pembengkokan tulang belakang (vertebrae) ke arah samping yang merupakan suatu kelainan (deformitas) dari tulang belakang itu sendiri. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiopatik, yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya.

Sedangkan 15-25% kasus skoliosis lainnya merupakan efek samping yang diakibatkan karena menderita kelainan tertentu, seperti distrofi otot, spina bifida, cerebral palsy, spinal muscular atrophy, trauma atau penyakit lainnya. Berbagai kelainan tersebut menyebabkan otot atau saraf di sekitar tulang belakang tidak berfungsi sempurna dan menyebabkan bentuk tulang belakang menjadi melengkung.

Pada umumnya skoliosis dibagi atas dua kategori di antaranya adalah Skoliosis Struktural dan Non Struktural. Skoliosis struktural adalah tipe skoliosis yang bersifat irreversibel (tidak dapat dikembalikan ke bentuk semula) dan dengan perputaran (rotasi) dari tulang belakang, sedangkan skoliosis non struktural adalah Skoliosis yang bersifat reversibel (dapat dikembalikan ke bentuk semula) dan tanpa perputaran (rotasi) dari tulang belakang.




Tanda dan Gejala pada Anak dengan Skoliosis

Pada umumnya pasien dengan skoliosis awalnya tidak mengeluhkan adanya nyeri, namun lama kelamaan diiringi kelengkungan tulang belakang semakin membesar dapt menimbulkan rasa nyeri. Biasanya skoliosis baru disadari oleh orangtua ketika anak beranjak besar, yaitu terlihat keadaan bahu yang tidak sama tinggi, tonjolan skapula yang tidak sama, atau pinggul yang tidak sama. Pada keadaan ini, biasanya derajat pembengkokan kurva sudah lebih dari 30 derajat. Pada skoliosis yang berat dimana kelengkungan tulang belakang yang lebih besar dari 60 derajat bisa menyebabkan gangguan pernapasan.

Pada pemeriksaan fisik, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan untuk mencari tanda skoliosis, antara lain:

1. Anak diminta berdiri tegak, untuk melihat adanya asimetri bahu, leher, tulang iga, pinggul, skapula, menentukan plum line yaitu kesegarisan antara leher dan pinggul dan mencari adanya body arm distance yaitu jarak antar lengan dengan badan.

2. Anak kemudian diminta membungkuk, untuk melihat adanya rotasi (perputaran dari tulang punggung) dan derajat pembungkukan.

3. Selain itu perlu mengukur perbedaan panjang tungkai bawah (leg length discrepancy) dan mencari kelenturan sendi, sinus-sinus pada kulit, hairy patches dan palpable midline defects.



Penatalaksanaan Penderita Skoliosis?

Tujuan dilakukannya tatalaksana pada skoliosis meliputi 4 hal penting:

1. Mencegah progresifitas dan mempertahankan keseimbangan

2. Mempertahankan fungsi respirasi

3. Mengurangi nyeri dan memperbaiki status neurologis

4. Kosmetik

Jenis penatalaksanaan penderita dengan skoliosis disesuaikan dengan penyebab, onset terjadinya, umur penderita, besarnya kurva dan progresivitas skoliosis. Penatalaksaan pada penderita skoliosis meliputi non-operatif dan operatif. Penanganan non-operatif meliputi observasi, latihan otot punggung berupa olahraga seperti renang, perenggangan, fisioterapi, dan olahraga punggung. Tujuannya tak lain untuk menguatkan otot punggung. Tetapi hal itu hanya untuk pembengkokannya di bawah 20 derajat, orthosis/pemasangan pengangga untuk pembengkokan 20-40 derajat. Sedangkan tindakan operasi diindikasikan jika pembengkokan melebihi 40 derajat.



Observasi

Observasi merupakan suatu pemeriksaan yang teratur setiap 6 bulan untuk menilai progresivitas dari sudut sehingga dapat diputuskan tindakan yang akan dilakukan. Observasi dilakukan jika derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu di bawah 20 derajat pada tulang yang masih tumbuh atau di bawah 50 derajat pada tulang yang sudah berhenti pertumbuhannya. Rata-rata tulang berhenti tumbuh pada saat usia 19 tahun.

Pada pemantauan ini, dilakukan kontrol foto polos tulang punggung pada waktu-waktu tertentu. Pada umumnya foto kontrol pertama dilakukan 3 bulan setelah kunjungan pertama ke dokter, kemudian sekitar 6-9 bulan berikutnya pada penderita dengan kelengkungan di bawah 20 derajat dan 4-6 bulan pada penderita dengan kelengkungan diatas 20 derajat.



Orthosis

Orthosis dalam hal ini adalah pemakaian alat penyangga yang dikenal dengan nama brace. Indikasi pemakaian alat ini adalah ditemukannya derajat pembengkokan sekitar 20-40 derajat pada kunjungan pertama ke dokter atau terdapat progresifitas peningkatan derajat sebanyak 25 derajat. Jenis dari alat orthosis ini antara lain: Milwaukee, Boston, Charleston bending brace. Alat ini dapat memberikan hasil yang cukup signifikan jika digunakan secara teratur 22-23 jam dalam sehari hingga 2 tahun setelah menarche.



Operasi

Tidak semua skoliosis dilakukan operasi. Indikasi dilakukannya operasi pada skoliosis adalah:

* Terdapat progresifitas peningkatan derajat pembengkokan >40-45 derajat pada anak yang sedang tumbuh

* Terdapat kegagalan setelah dilakukan pemakaian alat orthosis

* Terdapat derajat pembengkokan >50 derajat pada orang dewasa

* Apabila terdapat deformitas yang memberikan gangguan

Bagaimanakah prognosis pada penderita skoliosis?

Prognosis tergantung kepada penyebab, lokasi dan beratnya kelengkungan. Semakin besar kelengkungan skoliosis, semakin tinggi risiko terjadinya progresivitas sesudah masa pertumbuhan anak berlalu. Skoliosis ringan yang hanya diatasi dengan brace memiliki prognosis yang baik dan cenderung tidak menimbulkan masalah jangka panjang selain kemungkinan timbulnya sakit punggung pada saat usia penderita semakin bertambah. Penderita skoliosis idiopatik yang menjalani pembedahan juga memiliki prognosis yang baik dan bisa hidup secara aktif dan sehat.

Bayi yang menderita skoliosis kongenital memiliki sejumlah kelainan bentuk yang mendasarinya, sehingga penanganannya pun tidak mudah dan perlu dilakukan beberapa kali pembedahan.

No comments:

Post a Comment